

Pencahayaan merupakan sebuah media untuk mengekspresikan suatu desain. Pencahayaan siang hari (daylight) merupakan suatu bentuk pemanfaatan cahaya matahari yang tentu saja ramah lingkungan serta memiliki beberapa kelebihan seperti dapat menonjolkan karakter warna ruangan, membentuk lingkungan dengan suasana yang sehat serta merupakan salah satu bentuk usaha menghadapi global warming.
Dalam pemanfaatan daylight, kita menganl penggunaan komponen jendela serta skylight yang tidak hanya berperan sebagai pemisah wilayah luar dan dalam namun juga menjdi media pembatas bangunan. Dalam melakukan perancangan pencahayaan alami dalam suatu bangunan kit adapt menggunakan model 3d sebagai media simulator untuk menghindari kesalahan – kesalahan yang dapat mengganggu kenyaman.
3D MODEL DAN PROSES DESAIN
Rapid Prototype digunakan sebagai tool untuk membantu suatu proses desain. Salaha satu contohnya adalah bangunan
- pelepasan panas
- peningkatan panas
- level pencahayaan
- perlindungan terhadap sinar matahari
- view / pemandangan keluar
selain itu, biaya juga merupakan sebuah poin yang harus diperhatikan. Hal ini dapat terselesaikan dengan sebuah metode hitungan matematika sehingga dapat memprediksi dan mengoptimalkan kerja bangunan. Klien juga dapat terbantu dalam memahami dampak dari desain dan bagaimana menemukan solusinya.
Sebagai suatu contoh, di High Museum of Art, Konservator menemukan fakta bahwa level pencahayaan pada ruangan galeri hingga atrium melebihi intensitas yang telah ditentukan. Untuk menganggulangi hal tersebut, pihak museum memasang panel fabric pada jendela stelah dilakukan beberapa perhitungan. Pada tahun 2002, dilakukan sebuah renovasi dengan tetap mempertahankan objek – objek arsitektur Richard Meier yang menerapkan sistem shading pasif pada atap dan fasad bangunan.
3D model juga kerap kali digunakan untuk menganalisis konstruksi suatu bangunan dan menemukan sebuah terobosan untuk mengkomunikasikan data kepada pendesain dan juga memberikan informasi kepada klien tentang tingkat iluminasi yang diterima bangunan. Sebuah kombinasi antara autocad dan 3D max digunakan dalam memecahkan masalah ini, sedangkan custom script dikembangkan menggunakan macromedia.
Secara garis besar, model 3D merupakan suatu bentuk simulator atau penguji coba suatu desain bangunan sehingga memudahkan klien dalam memahami permasalahan yang dalam desain melalui format yang lebih ringkas dan mudah dipahami.
Demikian apa yang dapat saya pahami pelajari dan pahami mengenai MODELING DAYLIGHT dalam perancangan bangunan, semoga dapat bermanfaat bagi teman - teman semua. trims..
saya setuju dengan postingan di atas. indonesia sebagai negara yang kaya sinar matahari seharusnya mulai menyadari keuntungan tersebut dan mulai mengurangi penggunaan AC yang boros energi. btw, gambar yang kedua tu ada di negara maju sub tropis, ya? nggak nyangka.
BalasHapustopik yang bagus...faktor pencahayaan memang sangat penting,,pernah kita pelajari ecotect...software ini cukup membantu untuk mengecek mengenai sistem pencahayaan dalam desain yang kita buat
BalasHapusMemang sih, yang sering jadi masalah waktu mendesain karya arsitektur biasanya ga lepas dari masalah pencahayaan dan penghawaan. Mungkin lewat model 3 dimensi ini kita bisa tahu seperti apa jadinya kalau bangunan ini benar-benar sudah jadi nantinya. Ya meskipun akurasinya masih belum terlalu baik, setidaknya ini sangat membantu arsitek dalam mendesain bangunannya..
BalasHapussetuju sama komen2 di atas... mengenai pencahayaan yang emang jadi salah satu aspek terpenting dalam mendesain suatu bangunan. jadiii...adanya 3D modeling ini bener-bener sangat membantu para arsitek dalam mendesain suatu bangunan...mudah2an ja kita bisa memplajari 3d modelling itu secepatnya y..n_n
BalasHapustopik yg bagus-bikin inget ma ecotct-..
BalasHapusefek yang ditimbulkan jika daylight ga sesuai emang byk bgt ga cuma silau atau panas, tp untung ad software semacam 3D modeling ini yang membantu dlm mencegah timbulnya masalah2 seperti itu....
ok deh..
BalasHapuswahh bahasanny hampir sama am punyaQ lo mo..eh din..mo aj deh.cuma programmu mungkin lebih expert dibanding program yang aq bahas..pake excel lhohhh buat daylight..baca ajaa..hehheeee...
BalasHapushahaha ..tumben tulisanmu bs bgus bgtu din. dpt copy-paste dr mna ?
BalasHapusya apapun lah bentuknya ..pmbhasanmu bgus ko ..
kita sbg calon arsitek juga kan tau apa yg menjadi mslah di dunia saat ini yang lg rame bgd di bahas kedalam desain rancangan kita ..
di pembahasanmu ini, mungkin salah satu dari salah banyak solusi yang ada dari beberapa masalah arsitektur itu. yaitu yang berkaitan dengan dampak 'global warming' ..
semoga az, adanya 3D modelling ini bs membantu kita sbg arsitek atau calon arsitek untuk lebih berani melakukan inovasi yang berkaitan dgn software2 yang ada .hidup arsitektur dijital !!(halaah) hehehe ..
sedikitnya ya mgkn cm ini yang bs ak tangkep dr ide tntg artikel yang kamu bahas .
oke din! setuju
BalasHapuskalau semua desain tuh juga pake simulasi kaya gini mungkin bangunan2 akan lebih efisien energi...dsan semoga semakin banyak arsitek yang menyadari hal itu
hem...sebenarnya apa yang ditawarkan teknologi tidak lain adalah memudahkan dalam tahap desain sampai pada tahapan analisa. nah itu juga termasuk tema ini. membuat kita bereksperimen more n more.
BalasHapusreni..kamu ngomong apa si..kayaknya ga nyambung dengan topik deh..hahahahha
BalasHapusmm..aq setuju (setuju apa)
halah malah fisbang maneh,,,,,,,
BalasHapushahahaha
hidup ini indah...
Cahaya selalu merender bangunan dengan lebioh baik, experimen menggunakan software tertentu untuk mengetahui jatuhnya bayangan pada bangunan, bagaimana mendramatisasi bangunan dengan menggunakan bayangan dan cahaya tentunya sudah tidak jadi maslah lagi.
BalasHapusnah...bangunan contoh punyanya Renzo Piano tadi kan kaca2 tuh,,,apa malah ngga panas ya??
BalasHapuskatanya mengurangi efek global warming??
eh iya bukannya kalo kaca2 tu malah mbwt global warming y?
BalasHapusoio din rapid prototype macam apa tu?
sebagai manusia sekaligus calon arsitekyang hidup di negara tropis,mari kita berdayakan aspek lighting daalm desain kita!
BalasHapuspenggunaan ac itu penting.itu juga salah satu kemajuan teknologi kan.tapi kalo pikiran kayak gitu trus berkembang,arsitek-arsitek di masa depan bisa jadi goblok.pie je gel aku kok bingung dewe..
BalasHapusmemperbanyak pencahayaan alami = sustainable design
BalasHapussip!!
spakat! pencahayaan alami memang sudah seharusnya dijadikan sebuah potensi trutama di negara kita dalam perancangan arsitektur..
BalasHapustapi sayangnya, belum banyak arsitek yang sadar akan hal ini, kenapa masih ada bangunan-bangunan yang berdiri belum mempertimbangan aspek yang nantinya berdampak pada global warming..
smoga kitalah calon2 arsitek peduli lingkungan.
satu lagi, kalau program yang tadi kamu paparin di atas memang tpat untuk simulasi pencahayaan, kira2 program tadi disebarluaskan ga ya?? di indonesia, di jogja deh, di arsi kita terutama, ada ga ya? supaya kita2 bisa memanfaatkn program itu salam perancangan,, kan sayang kalo cuma wacana,...SMANGAT!
sebenernya permbahasan part 5.1 di blog saya jauh lebih bagus...
BalasHapusjadi saya mengunjungi blog ini cuma untuk memberi tahu pengunjung blog ini untuk berhenti membaca dan beralih ke
ganaganesha.blogspot.com
tiap komen kamu, pasti akan saya balas seolah2 saya seorang blogger sejati, langsung dari laptop saya
inget ketik
ganaganesha.blogspot.com
ting!
kita tinggal di Indonesia, negara tropis. cahaya matahari berlimpah. kok ya masih seneng2nya boros energi pake lampu siang2, AC, dll...
BalasHapusmodeling daylight ini tentunya harus jadi kultur wajib arsitek Indonesia
simulasi cahaya matahari? jadi kita bisa tau perletakan bukaan2 yang pas supaya memaksimalkan cahaya, tapi tetep nyaman (ndak kepanasan)?
BalasHapuskalo bisa tanpa AC, knapa mesti pake?
ayo hemat energi!!
70-90% penghematan dapat dicapai dari perilaku tiap individu, terlebih kalo desainernya hemat...!!
apa2an sih komen2 dr co2 kesepian itu....gda yg nyambung
BalasHapusaduh2..,,si tebo ngamuk nih,,gwat2!!
BalasHapussepertinya keberuntunganya g berlaku di dunia dijital..
wkwkwkwkwkkwkwkw
Cahaya matahari adalah energi yang melimpah ruah di alam, sayang banget kalo nggak dimanfaatkan. pun dalam mendesain bangunan pun aspek pebcahayaan matahari pun perlu diperhatikan. misalnya di sisi mana saja kah yang memerlukan penyinaran secara langsung, mana yang memerlukan cahayanya saja dan mngabaikan panasnya, bagian mana pula yang cocok diberikan efek shading, dan lain2..
BalasHapusjadi kalo memang sudah tersedia sumbernya di alam, kenapa harus beralih pada sumber2 buatan?? mari renungkan kembali..
hoho...
hujan matahari (haaaaah?!ada ya...?) di Indonesia harus dimanfaatkan dengan baik....
BalasHapushmmm....
BalasHapusnice review lah,,
ga da koment gw,,,
T O P abis!!!!!
iyyyep. Indonesia mandi matahari lho,,,,
BalasHapusmusti pinter2 memanfaatkan dan menggunakan anugrah alam yg ada.
wuiiih
Garang...
BalasHapusberarti dengan modeling daylight kita bisa mensimulasikan sekaligus menganalisis rancangan kita dalam hal daylight sehingga pada akhirnya hasil rancangan kita bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan....
kayak ecotect juga niy...
BalasHapustapi bener2 membantu banget dalam pengerjaan desain...
eh iya...gambarnya kalo mau besar tulisannya jangan dikasih samping..jadi agak susah bacanya...
wah kalo gini bisa jadi banyak bangunan yang nyaman secara thermal..
BalasHapusjadi makin sedikit bangunan salah desain..
bagus,,baguss
tetapi sayangnya beberapa arsitek mendesain medium transparan unruk memasukkan cahaya semaksimal mungkin pada bangunan dengan tujuan minimalisasi pencahayaan buatan di siang hari tetapi setelah itu menggunakan AC yang mnyebabkan pemanasan global akibat penyelesain yang tidak maksimal.contoh: high rise building di negara beiklim tropis.
BalasHapushmm..coba dulu kampus kita waktu dirancang udah ada modern daylight kaya gini
BalasHapuspasi gag sia-sia jendela sebanyak itu..
Di indonesia yang beriklim tropis ini perlu adanya analisis termal untuk merancang bangunan.
BalasHapusAgar penghuni yang ada di dalamnya nyaman.
Ini juga bisa mencegah adanya global warming...
Penggunaan simulasi 3D sangat bermanfaat dalam perancangan bangunan. Sehingga kita bisa mengetahui efek cahaya yang terjadi dalam bangunan yang mungkin bisa menambah nilai estetis bangunan
BalasHapuspostingnya OK n padat. sebenarnya dari matahari sendiri kita bisa menciptakan beberapa efek iluminasi. tapi kok sekarang masyarakat awam nggak begitu menyadari kalau matahri itu lampu yang paling indah dan hemat energi yak???
BalasHapusModeling sangat banyak bermanfaat, saya setuju dengan hal itu. Hanya saja modeling harus dikerjakan secara akurat untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan sesuai dengan kebutuhan. Penggunaan material kaca sangat berguna untuk menciptakan pencahayaan alami. Namun material kaca akan mempengaruhi pada masalah pendanaan, kondisi termal, dll. Tetapi ada satu hal yang terlupakan dan mungkin tidak dapat diakomodir oleh modeling program khusus untuk pencahayaan. Bahwa material yang digunakan harus aman. Model program tersebut hanya mengampu pada hal fisika bangunan. Padahal sesuai dengan tema lain di buku ini, karya arsitektur sangat berkaitan erat dengan struktur.
BalasHapusProses permodelan pencahayaan hanya menekankan pada pencahayaan dan mungkin kondisi termal dan kenyamanan bangunan. Akan tetapi tidak mengampu kebutuhan struktur pada bangunan. Kembali, pada model 3D, apakah dapat mereka menganalisis kebutuhan dari pengguna. Model tersebut tidak dapat memainkan emosi dan jiwa model. Jadi, keakuratan itu perlu ditambahkan dengan model pengguna, sehingga tercapai hasil analisis yang sempurna pula.
pencahayaan tu unsur yang penting dalam sebuah bangunan..apalagi di negara tropis seperti indonesia..maksimalisasi pemasukan cahaya pada siang hari, akan meminimalisasi penggunaan energi..
BalasHapuspenting itu...
Blog ini cukup bagus karena penjelasan mengenai modelling daylight dan bahwa 3D merupakan suatu bentuk simulator atau penguji coba suatu desain bangunan dijelaskan dengan cukup jelas.
BalasHapus